KOMJEN:Komunitas Kemijen

KOMJEN:Komunitas Kemijen

 

Kemijen adalah sebuah kelurahan di Semarang Timur yang terdiri dari 11 RW dan 82 RT. Di tengah-tengah kelurahan Kemijen membentang kali banger. Kali yang menurut warga sekitar baunya tidak sedap (banger) sejak dari zaman mereka belum lahir. Dulunya kelurahan kemijen hanya terdapat 5 RW saja. Ketika ada perluasan wilayah ditahun 1983 kemijen mengambil beberapa wilayah dari Kelurahan Rejomulyo.

Dalam segi sosial Kemijen dulu dikenal sebagai kampung yang membuat orang berfikir dua kali untuk menginjakkan kakinya disana. Kemijen terkenal dengan banyaknya gali, kecu, maling dan lain sebagainya. Dengan adanya Petrus ditahun 1983, membuat persoalan itu sedikit berkurang, karena banyak warga Kemijen yang menjadi korban dari petrus pada saat itu. Kekejaman era orde baru sedikit mempengaruhi perilaku warga kemijen sedikit demi sedikit dengan berkurangnya orang dengan predikat seperti itu.

 

Di awal tahun 2000an, berawal dari perkumpulan karangtaruna yang sering berkumpul dan beberapa warga Kemijen yang peduli dengan daerah tempat tinggal mereka. Di tahun 2005 pemuda kampung dan warga membuat ruwatan kali banger. Mereka memasang obor sepanjang aliran kali banger yang ada di Kemijen.

Berlanjut di tahun berikutnya, pada tahun 2006 dilanjutkan dengan Festival Kali Banger. Dalam festival ini terdapat kegiatan seperti lomba perahu, bazar, diskusi, dan pameran. Masyarakat sekitaran kali banger cukup antusias dengan festival. Mereka tidak takut untuk ikut lomba perahu di kali banger yang bau airnya sangat tidak sedap. Menurut warga untuk menghilangkan bau air kali banger sangat sulit, dengan satu kemasan sabun mandi tidak cukup

Kemijen kini sudah mulai berbenah di bidang sumber daya manusia dengan adanya orang-orang yang bersedia turut serta merawat dan memelihara lingkungan tempat tinggal mereka. Berawal dari gerakan taruna warga pada tahun 1999 yang peduli akan lingkungan tempat tinggal mereka. Mulailah para penggiat kampung ini berusaha memproduksi pengetahuan dengan menggandeng NGO dan akademisi (Universitas).

Pada tahun 2011, mereka menamakan dirinya sebagai KOMJEN (Komunitas Kemijen) dengan fokus dalam sosial masyarakat dan lingkungan.  Selain itu juga Komjen juga mnjembatani NGO dan Akademisi yang akan masuk ke Kemijen karena banyaknya jaringan yang di miliki oleh KOMJEN yang memiliki anggota sebanyak 22 orang, terdiri dari perwakilan 2 orang tiap RW.

Setiap anggota dari KOMJEN menyebar ke seluruh organisasi kelurahan, seperti LPMK, PKK, KSB, Karangtaruna, dan BKM. Bahkan di LPMK ketuanya berasal dari KOMJEN. “sebetulnya KOMJEN ingin mengintegrasikan semua lembaga yang ada di kelurahan agar satu visi dan mudah dalam pengawasannya”, kata Sukatno, ketua KOMJEN. KOMJEN mensupport lembaga yang ada di kelurahan dengan membawa program yang berasal dari luar kelurahan.

Rencana KOMJEN untuk masuk ke lembaga di kelurahan, mengawasi, mengintervensi dan membuat kelurahan berfikir kritis yang pada akhirnya membuat program berjalan dan komunikasi antar lembaga berjalan dengan baik. Pada 2017 KOMJEN menginisiasi pertemuan antar lembaga itu. “Mungkin ini adalah yang pertama kali di Semarang, bahkan bisa juga di Indonesia yang mengadakan pertemuan antar lembaga kelurahan”, Jelas Sukatno. KOMJEN sendiri sudah melarang angotanya untuk merangkap jabatan, jika sudah menjabat di lembaga kelurahan maka harus melepas jabatannya di KOMJEN ataupun sebaliknya.

KOMJEN sudah berbadan hukum, sudah di daftar ke Kesbangpollinmas. Akan tetapi terbentur dengan regulasi. “jika kita mendaftar sebagai ormas syaratnya harus mempunyai cabang di 6 kecamatan, jika kita mendaftar sebagai LSM padahal kita juga bukan LSM” Ujar Sukatno. KOMJEN ini memang murni gerakan swadaya masyarakat yang peduli akan kondisi Kemijen.

Facebooktwittergoogle_plus

Leave a reply