Kisah Sore dengan Para Nenek di Bustaman

Kisah Sore dengan Para Nenek di Bustaman

Sore itu saya menemukan dua lansia yang sedang ngobrol dan mengamati sekitar. Mbah Rothiyah dan Yah dua-duanya berumur 69 tahun. Rambut mereka sudah memutih namun tetap cantik walau masa ranumnya sudah lewat. Dua perempuan ini adalah saudara. Dalam tegur sapa saya, mereka menanyakan dengan siapa saya datang, yang lalu saya jawab “sendiri Mbah”, sambil salim. Maklum saja, dalam ranah dolan  saya di Kampung seringnya saya bersama Mas Bagus Hysteria.

Sore di Bustaman cukup tenang awalnya sebelum beberapa motor dari tetangga sebelah lewat dengan cepat atau anak-anak kecil berlarian lengkap dengan suara nyaringnya. Kembali pada dua perempuan ini, mereka menikmati sore dengan senyum dan obrolan ringan saja, bertegur sapa pada mereka yang lewat dan menanyakan kabar kerabat atau tetangga mereka. Para lansia ini lebih sering waktu luangnya tinimbang golongan lain macam ibu-ibu, bapak-bapak, anak-anak atau remaja yang memiliki aktivitas rutin setiap hari yang membawa waktu mereka berada pada tempat lain, sekolah, tempat kerja dan lainnya. Sedang para lansia hanya ada kegiatan rutinan setiap Kamis Sore yang biasa disebut Yasinan. Selebihnya rumah-masjid-bangku kampung adalah segitiga hidup mereka.

Pada usia ini kehilangan pasangan adalah satu fase yang siap atau tidak siap harus mereka lalui. Kemudian, menata kehidupan kembali bersama anak dan cucu. Sekalipun dibilang tahapan psikologis yang wajar kehilangan pasangan tetaplah kehilangan. Pisahnya fisik dan jiwa adalah batas atas dunia spirit dan dunia materi yang tidak bisa dijangkau bersama.

Bersama hari yang kian sore dua lansia ini semakin membaur dengan warga. Mereka masih terlihat tertarik topik dan pembicaraan dari warga, apalagi berita yang sedikit heboh. Meski responnya cenderung lebih tenang, tapi toh berita semacam ini tetap membuat mereka mampu tersenyum, ikut tertawa dan berdecak. Tentu ini adalah hal yang bagus, ketika mereka masih bisa menikmati hari-hari mereka dengan tawa dan ruang yang ada. Keberadaan sanak keluarga adalah bagian yang penting tat kala usia sudah semakin senja.

Pada saya mereka juga menanyakan keberadaan Jun Kitazawa yang beberapa minggu lalu berada di tengah Bustaman dan menggelar worshop tentang Kandang Burung kemudian memamerkan hasil karya kolaboratif dirinya dengan  remaja kampung Bustaman (IRB). Beberapa kandang burung masih terpasang  di deretan tali mirip jemuran sekitar jalanan sempit Bustaman. Kandang yang dilukis menyerupai globe. Membiru dan hijau.

Seringnya orang asing yang berdatangan di Bustaman membuat warga Bustaman ramah dan tidak pandang penuh curiga, pun dengan dua lansia ini. Sikap warga Bustaman cenderung tidak ewuh bila kedatangan tamu asing, pun mereka yang benar-benar asing macam Jun Kitazawa, Warga Negara Jepang yang sedang residensi di Kampung Bustaman melalui Komunitas Hysteria.

Mbah Yah pergi lebih dulu dari bangku hangat kami setelah sebelumnya menanyakan dengan apa saya kesini dan kampung saya berasal serta kuliah saya. Sedang Mbah Rothiyah masih berada pada bangku hangat sampai adzan berkumandang. Saya memilih shalat di lantai atas, tidak di lantai satu yang kebanyakan adalah para lansia. Dua SiMbah ini mengajarkan pada saya tentang bagaimana menjadi lansia yang kalem dan sahabat bagi mereka semua yang datang kampung mereka,bahwa semua orang adalah tamu yang harus disapa dan dipersilahkan. Pada masanya nanti saya dan anda semua pun akan renta, keriput dan menggelambir.

Facebooktwittergoogle_plus

Leave a reply