Karang Taruna Tunas Muda: Manifestasi Rindu

Karang Taruna Tunas Muda: Manifestasi Rindu

Memperhatikan isu perkotaan, tak lepas dari manusia, seni, dan budaya yang melingkupinya. Kota melapisi jiwa-jiwa didalamnya dengan sekelumit perkara, panorama, sekaligus mimpi tak bertepi. Adapun mimpi itu tersalurkan menjadi sebuah aksi sarat makna, cita-cita, dan ada pula yang berujung utopia. Sebagai contoh, di suatu kampung bernama Sendangguwo, letaknya di Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, ia tak luput dari perpaduan antara kepentingan, pengetahuan, dan kolektivisme pemuda yang banyak mengakar pada budaya.

Awalnya, sejumlah pemuda/i di Sendangguwo merasakan “keringnya” ranah kepedulian dan sosial antarsesama, disertai rindu akan berkegiatan yang menggumuli suatu bidang, misalnya keagamaan, kesenian, lingkungan hidup, dan sebagainya. “Kekeringan” dan perasaan rindu yang memuncak menjadi landasan bagi mereka untuk bergerak secara bersama-sama. Termasuk dalam membuat dan meresmikan karang taruna bernama Tunas Muda yang berdiri sejak awal Maret 2015. Pencapaian demikian bukanlah apa-apa tanpa didorong oleh keikutsertaan pemuda/i karang taruna bersama warga Sendangguwo. Khususnya untuk berkegiatan secara kolektif dan upaya-upaya kritis yang membangun posisi tawar Kampung Sendangguwo sebagai kampung yang bermartabat, baik secara sosial, ekonomi, politik, maupun budaya. Kegiatan karang taruna tak hanya diisi oleh pentas seni keliling di masing-masing RW setiap bulan sekali, ada pula pengajian rutin yang dilaksanakan secara bergilir oleh pemuda/i karang taruna, lalu Pusat Informasi dan Konseling (PIK) Remaja yang kini menduduki peringkat tiga di Provinsi Jawa Tengah, pembuatan kerajinan lampu hias dari botol bekas, miniatur landmark Kota Semarang, dan sejumlah syair maupun tembang mocopat. Rangkaian kegiatan tersebut tentu menjadi tanggungjawab dan hak milik bersama, mengingat nalar dan kepekaan antarwarga Sendangguwo turut diasah.

Berlatih teater untuk sebuah pentas

 

Hasrat untuk berpikir maju sembari menggali kantong-kantong budaya yang belum banyak diapresiasi oleh warga, menjadi salah satu dari sekian banyak pemicu bagi pemuda/i karang taruna, dalam menggagas suatu tema acara. Hasrat demikian dianggap mampu mendorong cipta dan “rasa” untuk berkesenian. Kreativitas mereka pun pernah menorehkan prestasi baik di tingkat kota maupun provinsi, seperti lomba Syair Muharram, Ajang Kreatif-Produktif di Kota Semarang, lomba puisi, dan sebagainya. Namun perlu diingat, kompetisi bukanlah ajang untuk meningkatkan gengsi, tetapi kolaborasi, daya saing, dan kreativitas yang harus ditingkatkan guna memupuk integritas dan rasa kebersamaan antarwarga; pun relasi interpersonal ditubuh karang taruna.

Yoga Mahardika selaku ketua Karang Taruna Tunas Muda, menuturkan bahwa program pertama mereka sebelumnya adalah pembenahan susunan internal yang ditarget selama kurang lebih enam bulan. “Setelah itu, kita mengaktifkan karang taruna unit RW. Disini ada 10 RW, 116 RT… Lalu, enam bulan pertama, kegiatan eksternal… Kita langsung ikut lomba Ajang Kreatif-Produktif tingkat kota itu. Alhamdulillah juara 1” tambahnya. Yoga pun mengakui bahwa siklus keaktifan pemuda/i Sendangguwo cukup terjaga karena karang taruna tiap RW terhitung aktif. Misalnya ada satu-dua RW yang tidak aktif, karang taruna RW lainnya masih aktif sehingga kegiatan-kegiatan rutin di Kampung Sendangguwo tetap berjalan. Pernah ketika mengadakan pentas seni di RW 04, anak remaja usia 18 tahun, menghampiri Yoga untuk bersalaman sambil mengucapkan terimakasih. “Mas, terima kasih. Aku to, omahku kono, seko lahir sampe usiaku segini belum pernah dibuat ada acara seperti itu…”, kurang lebih kalimat tersebut yang membekas pada ingatan Yoga sampai saat ini.

Yoga. ketua Tunas Muda

Upaya-upaya yang telah disebutkan diatas, merupakan awal dari pertautan antara kepentingan dan pengetahuan. Kantong-kantong budaya setempat juga acapkali menjadi nomor kesekian dalam prioritas pembangunan berkelanjutan. Untuk menyikapi hal tersebut, dirasa perlu untuk kita sebagai entitas kampung-kota, agar bersama-sama tumbuh dan bergerak, menyingkap tabir pikiran dengan alam; sebagai sesuatu yang berjalin-kelindan. Seperti halnya Karang Taruna Sendangguwo, ia menjadi manifestasi rindu yang dinilai cukup berhasil, baik dalam menyikapi keberagaman dan keringnya lahan diskusi maupun pendapat warga untuk pembaharuan. Dengan ini, narasi-narasi baru untuk kebaikan kampung kota tidak hanya lahir untuk didengar, tetapi didiskusikan serta ditindaklanjuti secara bersama-sama dan berkeadilan. Mega

Facebooktwittergoogle_plus

Leave a reply