Juru Kunci Pecinta Seni

Juru Kunci Pecinta Seni

“Saya tulis dengan besar, cungkrah agawe bubrah, rukun agawe sentosa.”

pekakota.or.id – Jika ada orang yang paling mengerti bagaimana perkembangan masyarakat di kompleks asrama polisi Semarang Utara, Mardi Raharjo orangnya. Hampir empat puluh tahun Mardi menetap di sana. Sejarah kampung yang dhuni oleh anggota kepolisian ini seperti terangkum di ingatannya.
Mardi lahir 3 Maret 1953. Ia menghabiskan masa remajanya di SMEA Marsudi Luhur Yogyakarta. Di Semarang ia menemukan jodohnya. Nining Sri Suparning, perempuan cantik asli Semarang berhasil memikat hatinya. Dari perempuan ini, Mardi dianugrahi dua orang anak.
Tahun 1974, Mardi menginjak Semarang. Pada mulanya tak tebersit sedikitpun di benaknya untuk menetap di Semarang. Semua berawal ketika sang kakak menganjurkannya untuk mendaftar sebagai satuan di kepolisian Semarang. Mardi pun diterima.
Pada mulanya, Mardi justru nggelandang di Semarang. Dari Yogyakarta, ia memutuskan mengadu nasib di Semarang. Di kota inilah akhirnya ia bekerja dan menempati satu bangunan rumah dinas di Aspol Semarang Utara, seksi I. Kini, Mardi justru dipercaya warga setempat sebagai ketua Rukun Warga VI. Barangkali karena dianggap tokoh yang paling dituakan di kompleks ini.
Dari tatapan matanya kita akan tahu betapa pengalaman hidup Mardi sudah sangat matang. Kretek hampir selalu menempel di sela jarinya. Tak perlu mengajukan sederet pertanyaan untuk memancing Mardi menceritakan pengalaman hidupnya. Pada dasarnya Mardi adalah orang yang hangat. Saya merasa disuguhi setumpuk kisah hidupnya yang penuh warna itu. Dari saat menjadi polisi, kegemarannya di bidang kesenian, hingga pengalamannya memimpin warga aspol.
Satu hal yang tak bisa Mardi lupakan saat masih tergabung dalam satuan. Tepatnya pada tahun 1983 hingga 1984. Mardi menerawang jauh, mengenang saat dirinya mendapat tugas di daerah konflik, tepatnya di Timor Timur. Sebuah wilayah yang dulu menjadi bagian dari provinsi Indonesia, dan sekarang sudah menjadi negara merdeka.
Di Timor Timur inilah, selama lima belas bulan, Mardi harus berurusan di daerah konflik. “Suasananya mencekam”, ungkap Mardi serius. Di kota Dili, Mardi pernah bertugas untuk menerima laporan tentang jumlah korban akibat konflik berdarah itu. Mardi pun sempat merasa trauma ketika setiap hari ia harus mendengar bahwa teman-temannya gugur di medan tugas. “Saya pernah ditugasi memploting (menggali-ed) liang kubur bagi mereka yang gugur”. Sampai ketika kenangan ini Mardi kisahkan, kesedihan itu masih tampak di wajahnya.
Namun, bertahun-tahun bertugas, tentu saja tak hanya pengalaman bertugas di daerah berkonflik yang bisa ia ceritakan. Kisah menarik justru muncul tentang kegemaran Mardi pada dunia kesenian. Semua berawal ketika Mardi terlibat dalam pementasan ketoprak yang ditekuninya guna mengisi waktu senggangnya saat bertugas. Pementasan ketoprak itu bahkan sempat disiarkan di televisi nasional.

Dari main ketoprak inilah, nampaknya rejeki berkepanjangan sedang bersiap menghampiri Mardi. Entah kapan mulanya, ada seseorang yang meminta Mardi untuk mengurusi helatan acara sebagai Pranatacara. Padahal, Mardi sebenarnya sama sekali tak paham tentang kepranatacaraan. Berbekal nekad, Mardi pun menyanggupinya.

Merasa ada peluang besar baginya di bidang kepranatacaraan, Mardi memutuskan untuk bergabung dalam sanggar Medar Sapto Pranotocoro. Di sanggar ini Mardi kurusus secara serius demi mendalami bidang barunya itu. Meski berstatus sebagai anggota polisi, kesibukannya inilah yang membuat Mardi hingga kini kerap diundang untuk mengisi acara hajatan.

Kini, menikmati hari-hari pensiun, Mardi justru semakin disibukkan dengan pekerjaannya selain sebagai pranatacara. Keahliannya membuat panel data yang merupakan bagian dari perlengkapan wajib administrasi di kantor dinas kepolisian. Keahlian ini, seperti halnya keahliannya bermain ketoprak dan memandu acara, Mardi dapatkan saat mengisi waktu senggangnya dalam bertugas. “Setiap menjelang tujuhbelasan, saya pasti dicari anak-anak kompleks. Minta diajari memandu acara..haha”, kelakarnya.

Sudah sepantasnya bila Mardi dianggap sebagai ‘jurukunci’ di kampung ini. Perannya di kampung—Mardi juga aktif mengurusi masjid bersama Waldiyana—membuatnya tenar di kalangan warga. Namun, ada satu yang mengganjal di hati Mardi. Menyadari kampungnya yang hampir sembilan puluh persen berisi anggota kepolisian, kondisi sosial warga kampung jadi kurang bergairah. Masing-masing warga sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.

Bahkan dengan kondisi bangunan yang terlalu sempit, serta status yang tidak begitu jelas, kampung jadi kurang bisa digerakkan menyemarakkan suasana kampung. “Sulit mencari potensi di kampung ini…” Tapi hasrat berkesenian Mardi tak pernah surut. Pernah suatu saat, bermodalkan cat yang ia beli dari kantong pribadi, tembok panjang di kompleks belakang ia gambari besar-besar penuh warna. “Saya tulis dengan besar, cungkrah agawe bubrah, rukun agawe sentosa.”(Widyanuri EP)

Facebooktwittergoogle_plus

Leave a reply