Harapan Kecil Sang Juragan Martabak

Harapan Kecil Sang Juragan Martabak

pekakota.or.id – Menjabat sebagai ketua Rukun Tetangga tak semudah yang kita kira. Bagaimanapun, dalam kehidupan bertetangga, ada pelbagai karakter masyarakat. Mengajak masyarakat untuk punya keterlibatan mengelola kampung agar terjadi interaksi, serta mengadakan pelbagai kegiatan, adalah pekerjaan yang tak mudah.

Begitulah kiranya pekerjaan berat yang sedang dilakoni Supardjo selaku ketua RT 5 RW IV di kampung Malang, kampung yang sudah ia tinggali selama hampir 25 tahun. Sebagai ketua RT, Supardjo selalu berusaha mengajak warganya untuk terlibat dalam kegiatan bersama. Dari acara-cara saat peringatan 17 Agustus, sampai mengadakan acara mingguan, seperti kelompok rebana. Tujuannya cuma satu, agar warga aktif dan guyub.

Supardjo lahir di Klaten, 10 Februari 1969. Menghabiskan masa SD di Klaten, dan memutuskan hijrah ke Semarang saat SMA. Sejak tahun 1980-an, Supardjo menetap di Semarang. Sejak itu pulalah Supardjo melanjutkan usaha warisan dari orantuanya, berjualan martabak. Tiap hari, Supardjo bersama gerobak martabaknya, mangkal di sekitar jembatan sebelah pasar Johar.

“Sudah dua puluh tahun saya jadi penjual martabak”, ucapnya sambari tersenyum. Bagi Supardjo, berjualan martabak adalah usaha warisan yang mesti terus dipertahankan. Seluk beluk martabak tentu sudah begitu Supardjo pahami. Dari usahanya ini, ia bisa menghidupi keluarga sekaligus memenuhi hobinya memelihara burung, yang cukup banyak jumlahnya. Koleksi burung Supardjo meliputi Kacer dan Cucak Ijo, dan akan terus bertambah jika ia sedang banyak rejeki.
Pada suatu kesempatan saya berhasil menemui Supardjo di kelurahan Purwodinatan. Sembari memegang kertas materi rapat di kelurahan, dia meladeni obrolan saya. Sesekali mengisap rokok kreteknya itu. Supardjo mulai menceritakan perihal warganya. Menurut Supardjo, warganya kini kurang berminat untuk terlibat dalam kegiatan. Selain sibuk oleh pekerjaannya masing-masing, Supardjo memaklumi barangkali ini adalah ‘warisan’ dari ketua RT sebelumnya yang kurang menyokong kegiatan rukun tetangga.

“Warga di sini gampang bosan”, ungkapnya. Supardjo menerawang jauh, mengingat masa-masa saat warga di kampungnya masih gemar mengadakan perkumpulan lewat kegiatan. Rebana, misalnya. Pernah suatu ketika warganya begitu antusias, meski pada akhirnya bosan juga.

Di kampung Malang pernah juga ada perkumpulan kelompok sepak bola. Cukup disegani di kawasan Purwodinatan. Tak tanggung-tanggung, kompetisi bola ini pernah sampai tanding di Purwokerto dan Banyumas. Banyak pemuda terlibat dalam kelompok ini. Hingga pada tahun 2000-an, terjadi kecelakaan yang melibatkan para pemain. Tepatnya setelah bertanding di Purwokerto. Selepas pertandingan, dalam perjalanan pulang, terjadilah kecelakaan nahas itu.

Empat nyawa tak tertolong, termasuk adik dari istri Supardjo. Peristiwa kelam itu tak pelak menyisakan luka mendalam bagi Supardjo, juga bagi keluarga yang ditinggalkan. Termasuk warga yang salah satu anggota keluarganya ikut menjadi korban. “Mungkin trauma itulah yang membuat warganya enggan untuk berkegiatan”, ucap Supardjo agak murung.
Meski begitu, Supardjo tetap optimis pada warga di kampungnya. Ia tetap yakin akan mampu membuat warganya bisa semakin guyub dan kembali bergairah untuk beraktifitas bersama. Harapannya tak muluk-muluk:”Saya harap kampung bisa lebih gotong-royong lagi. (Widyanuri EP)

Facebooktwittergoogle_plus

Leave a reply