GREBEK SUBALI

GREBEK SUBALI

Kelurahan Krapyak merupakan salah satu kelurahan di Kecamatan Semarang Barat yang lebih dikenal dengan penyebutan Perumnas Krapyak. Sebelumnya kelurahan ini tidak terlalu dikenal hingga pada tahun 2012 untuk pertama kalinya warga setempat tepatnya RT 2 RW 4 mengadakan acara peresmian gapura di perumahan mereka yang nantinya acara tersebut menjadi cikal bakal dari festival yang kita kenal sebagai Festival Grebek Subali. Nama grebeg subali diambil dari nama jalan dimana kirab dan arak-arakan dilaksanakan. Sesuai yang diungkapkan oleh Alan (24) salah satu pemuda karagtaruna, “kita memang milih grebeg subali namanya, karena kita lakukan dijalan subali. Selain itu kayanya itu nama yang paling cocok untuk mewakili kampung ini. Kalau dinamakan Grebeg Krapyak atau Grebeg Hanoman kayaknya kok kurang pas aja, bagusan Grebeg Subali”, ungkapnya.

Pada acara festival pada tahun 2016 pemuda karang taruna kemudian menyusun konsep acara dan mengajukan acara tersebut pada tetua kampung, meskipun pada awalnya acara ini kurang disetujui karena sesepuh kampung menganggap acara tersebut terlalu memakan banyak dana dan tidak jelas manfaatnya. Namun, para pemuda mampu meyakinkan para tetua untuk melaksanakan festival tersebut. Para pemuda karangtaruna yang dinahkodai oleh mas Tri  tidak kehabisan akal. Mereka  pun mulai mencari dan mengumpulkan seniman yang mau turut bergabung dalam festival tersebut, baik itu seniman wayang, teater, gambar, mural, tari, dsb.

Venue dibuat di depan rumah tertua di kampung tersebut, yakni rumah mbah Sawal. Rumah yang tidak berubah sedikitpun hingga kini, dan hanya dilakukan renofasi kecil jika terjadi kerusakan. Rumah mbah Sawal dipilih karena nilai sejarahnya dan juga letaknya yang cukup strategis di dekat pertigaan jalan.

Pada hari pelaksanaan grebek subali, acara dimulai dengan pencucian batik Krapyak dan dilanjutkan dengan kirab arak-arakan. Batik tersebut merupakan batik asli Krapyak yang dibuat oleh ibu-ibu PKK RT 2 RW 4 untuk usaha. Warga ingin memunculkan sesuatu yang asli yag berasal dari warga Krapyak. Namun karena terbatasnya modal dan berbagai tantangan, produksi tersebut terhenti. Seperti yang disampaikan Afan (26) ketua karangtaruna kelurahan Krapyak saat ini, “emang kita itu mau memunculkan sesuatu yang ada disini, yang tidak ada ditempat lain, batik itu dipilih karena itu karya asli warga Krapyak. Motifnya bercorak khas semarang”. Ujarnya saat ditemui di kawasan RT 2 RW 4 kelurahan Krapyak (26/09/2017). Setelah batik dicuci dan acara telah selesai, batik akan disimpan ditempat salah satu warga yang dituakan.

Pada hari H, Festival Grebek Subali cukup menyita perhatian khalayak. Banyak dari kampung lain, baik itu penggiat, seniman maupun warga biasa yang datang. Kini   2017 Festival Grebek Subali masih direncanakan dan akan dilaksanakan bersamaan dengan hari sumpah pemuda. Terlepas dari bagaimana acara itu berlangsung, Festival Grebek Subali telah berhasil mengumpulkan para pemudanya untuk berkumpul dan membuat event di tempat tinggal mereka sendiri. Berhasil meyakinkan para sesepuh kampung bahwa acara tersebut mempu mengangkat nama dari kampung mereka. Kini beberapa orang telah mengenal perumnas Krapyak dengan khas perayannya yakni Grebeg Subali.

Facebooktwittergoogle_plus

Leave a reply