Gerakan Berantas Tikus

Gerakan Berantas Tikus

 

Keberadaan hewan yang satu ini, dapat dikatakan cukup menggelisahkan kehidupan warga. Bagaimana tidak, dari benda mati sampai makanan segala rupa dapat terdeteksi oleh indra penciumannya sehingga menarik hewan ini untuk sekedar “mencoba”. Siapa lagi kalau bukan tikus? Nah!

Sedikit banyak warga di Kelurahan Sendangguwo turut mengamati dan merasakan geliat pertumbuhan tikus. Memang, perjuangan yang ia ambil tidaklah mudah untuk menerobos masuk melalui pintu-pintu atau aliran air di tiap rumah. Namun, akan lebih arif ketika ia memutuskan untuk tetap tinggal di area sekitar rumah; misalnya selokan, lahan bekas galian, dan sebagainya, dimana ia tidak mencampuri urusan didalam rumah (seperti bermain diatas plafon, mengendusi makanan, menggigit sejumlah perkakas rumah tangga, dan sebagainya). Oleh karena itu, populasi hewan ini perlu dikendalikan dengan cara diberantas.

 Gerakan pemberantasan tikus juga didorong terutama oleh penyakit dan/atau virus yang dapat ditularkan tikus dan berakibat cukup membahayakan bagi manusia. Gerakan ini pertama kali dilaksanakan di RW 03 Kelurahan Sendangguwo, kemudian diikuti di RW-RW lainnya secara bersama-sama. Mengutip pernyataan dr. Kartika Mayasari, terdapat beberapa penyakit yang ditularkan melalui tikus antara lain (1) Hantavirus pulmonary syndrome, yaitu penyakit menular gangguan pernapasan, ditandai dengan gejala seperti flu yang dapat berkembang cepat dan berpotensi mengancam jiwa. Virus ini dibawa oleh beberapa jenis hewan pengerat, terutama tikus. Seseorang dapat terinfeksi penyakit ini karena menghirup udara yang terpapar oleh Hantavirus (yang mengandung urin dan kotoran tikus); (2) Rat Bite Fever, penyakit ini disebabkan oleh gigitan tikus yang secara langsung mengenai tubuh, ataupun makanan dan minuman yang sudah tergigit oleh tikus sebelumnya; (3) Leptospirosis, disebabkan oleh bakteri Leptospira sp. Orang yang bekerja di luar ruangan bersama hewan (seperti peternak dan petani) lebih berisiko untuk terkena penyakit Leptospirosis. Pada umumnya, penyakit ini terjadi saat musim hujan dan banjir. Air kencing pada hewan yang terkontaminasi bakteri merupakan sumber penularan yang utama, dan tikus merupakan sumber utama penyebar penyakit Leptospirosis; (4) Murine Typhus, (atau demam tifus) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh kelompok bakteri gram negatif dari golongan Rickettsiae. Bakteri spesies Rickettsiae dapat ditemukan di kotoran binatang yang telah terinfeksi, dan tikus merupakan penyebab utama, penyebar bakteri ini (sumber: http://www.klikdokter.com/info-sehat/read/2697506/4-penyakit-yang-ditularkan-melalui-tikus, akses 4 Oktober 2017).

         

 

Munculnya gerakan pemberantasan tikus turut didukung oleh Pemerintah Kota Semarang. Tak hanya di Kelurahan Sendangguwo, Saptari (47 tahun) selaku staf di Kelurahan Sendangguwo menuturkan bahwa gerakan tersebut juga dilaksanakan di tingkat kelurahan lainnya di Kota Semarang secara serempak. Adapun langkah-langkah yang dilakukan warga dalam memberantas tikus yaitu menempatkan perangkap atau racun tikus, hingga tikus pun terjerat. Kemudian, salah satu penanggung jawab RT yang melakukan penangkapan tikus, harus mengirimkan pesan singkat dengan format tertentu melalui SMS ke nomor yang tertera, sebagaimana yang dijelaskan pada gambar dibawah ini:

Keterlibatan warga dalam menyikapi keberadaan tikus patut diacungi jempol. Selain gerakan tersebut masih dilakukan atas dasar kebutuhan pribadi, warga Sendangguwo juga ikut andil dalam menciptakan kebersihan dan kenyamanan lingkungan tempat mereka hidup, sekaligus menghidupi. Sebagaimana senyawa, organ, dan jaringan tubuh yang saling terpaut, mereka pun sadar akan pentingnya tindakan yang harus selaras dengan pikiran mereka untuk bebas dari ketidaknyamanan akibat penyakit dan/atau virus yang dapat ditularkan melalui tikus.

 

 

Facebooktwittergoogle_plus

Leave a reply