Cik Roh dan Bumbu Gulai

Cik Roh dan Bumbu Gulai

Pukul 09.00 adalah waktu yang santai untuk seorang perempuan renta berenergi muda “Cik Roh” atau Rondiah. Jangan dibayangkan Cik ini  mengindikasikan bahwa ia adalah keturunan tionghoa. Ia justru kerunan Koja-India. Wajahnya imut, badannya kecil, dengan senyum yang tetap terlihat manis. Keputusaanya memilih sebagai “gadis” sampai usia senjanya tak membuatnya kesepian dengan hari-harinya. Cik Roh setiap hari bangun pukul 03.30 WIB, memulai harinya dengan shalat malam dilanjut shalat shubuh, dan rutinitasnya menata bumbu tengkleng dan gulai dalam plastik. Ya, Cik Roh dan keluarganya adalah penjual satu-satunya bumbu kering tengkleng dan gulai bustaman. Tepat pukul 08.00 WIB Cik Roh sudah bersiap di tempat duduknya, depan televisi ruang pertama dalam sepetak rumahnya. Kadang-kadang Cik Roh menjualkan dagannya di bangku warga yang tak jauh dengan rumahnya. Disana ia siap menerima pembeli, para langganan yang sudah setia puluhan tahun.

Profesi penjual bumbu ini sudah ia lakoni bahkan  sejak kapan tahun yang Cik Roh sendiri lupa saking lamanya. Keluarganya besarnya tak lepas dari rantai  perkambingan dan jejaringnya. Ayahnya adalah seorang penjagal ulung, ibunya menjual daging kambing sedang kakak dan adiknya menjual bumbu gulai dan tengkleng.  Pesanan bumbu racikan Cik Roh dan keluarga sudah sampai luar kota. “ Pembeli gulai saya sudah sampai Kudus, mbak”. \

Satu bumbu gulai ia hargai dengan harga Rp 5000  lengkap dengan kelapa keringnya. Pun harga ini terbilang sangat murah. Dari seharga Rp 5000, bisa dibuat 1,5 kg gulai. Tidak repot, lebih cepat dan tetap terjaga kealamiannya. Sedang untuk bumbu tengklengnya dihargai dengan hanya Rp 500 plus ditambah beberapa bumbu mentah nantinya agar lebih sedap. Disini tidak mengenal pengawet buatan yang berdampak kurang bagus untuk kesehatan. Untuk bumbu gulai tidak disarankan untuk dipakai lebih dari lima hari, dan tidak pula ditaruh di dalam kulkas karena akan membuat rasa kelapa keringnya berubah. Sedang,  untuk bumbu tengklengnya bisa bertahan untuk jangka waktu yang lebih lama asal tetap dalam kondisi kering.

Menurut Cik Roh bumbu gulai dan tengkelng racikan keluarganya rasanya beda dengan yang lain. Ada semacam bumbu rahasia yang tidak akan ditemukan di penjual lain. Menjalani profesi ini membuat Cik Roh turut mewariskan masakan lokal yang kaya ini. Melalui racikan tangan betapa banyak orang yang terbantukan dalam membuat gulai dan tengkleng yang cenderung rumit bagi orang awam, sekaligus bagi mereka yang tak sempat membuat bumbu namun ingin rasa yang sedap. Lebih dari itu profesi ini sudah melekat dengan Cik Roh, sebagian besar waktu Cik Roh dihabiskan dalam meracik dan menjualkan bumbu gulai.

Saya mengakhiri percakapan dengan Cik Roh hampir pukul 09.00 kala Cik Roh mulai mengantuk. Suara sinetron yang nyaring membuat lantunan lagu sendiri untuk Cik Roh. Ia mungkin tak begitu paham dengan ceritanya. Namun, sinetron itu adalah teman setianya.  Sehat selalu ya, Cik. Dania Sind

Facebooktwittergoogle_plus

Leave a reply