Bisnis Nekat Sampai Negeri Cina

Bisnis Nekat Sampai Negeri Cina

pekakota.or.id – Jika ada pepatah carilah ilmu sampai negeri Cina, maka bagi Ahmad Taufik peribahasa itu bakal diubah menjadi “Berbisnislah sampai negeri Cina”. Bukan tanpa alasan Taufik berkata demikian. Ia telah membuktikan sendiri usaha bisnisnya dengan cara menjelajahi negeri Cina demi mencari stok dagangan yang ia inginkan. Bisa dibilang itu suatu kenekatan. Ya, bagi Taufik, bisnis harus dimulai dari keberanian. Maka, tak tanggung-tanggung, demi kemajuan bisnisnya, Taufik rela menghabiskan uang puluhan juta hanya untuk menembus pasar Cina.

Semua berawal dari bisnis yang ia geluti yaitu berjualan kaca mata. Warga di seputaran Pekojan Tengah memang tenar dengan usaha penjualan kaca mata. Mayoritas pengusaha di tempatnya adalah penjual kaca mata dan optik. Karena bisnisnya makin berkembang, Taufik berpikir tentang bagaimana proses distribusi barang dagangannya itu, dari negara asalnya Cina, hingga sampai ke Indonesia.

Taufik berpikir untuk menelusuri jalannya distribusi tersebut. Bermodal nekat dan info tanya sana-sini, berangkatlah Taufik ke Cina. Seingatnya, saat itu pada tahun 2002. Kelemahan bahasa tak jadi soal. Ia menyewa guide ketika di Cina. Dari kenekatannya itu, terbongkarlah rahasia bisnis distribusi kaca mata. Ia pun menjadi importir kaca mata. Kini hampir 36 kali ia sudah mondar-mandir ke Cina.

Maka tak mengherankan bila sosok yang didapuk sebagai ketua RT 10 RW III ini bisa banyak berkisah tentang Cina. Ia pun sempat memerhatikan bagaimana pembangunan dan pengaturan kota di Cina. Dari pengamatannya itulah, Taufik hampir berulangkali mencontohkan Cina sebagai referensi isu-isu yang berkaitan dengan pembangunan di sana.

Selain itu, jiwa petualang yang membara dalam diri Taufik membuatnya gemar melancong meski harus mengeluarkan banyak modal untuk membiayai hawa petualangan yang ia miliki. Pernah suatu ketika, dalam perjalannanya ke Cina, ia kehabisan seluruh bekalnya. Tak ada uang, namun masih ada nomor telepon kerabat bisnis yang bisa ia hubungi.
Tak mau mati di negeri orang, akhirnya Taufik memutuskan untuk “mengemis” di bandara demi dapat menghubungi kerabatnya tersebut. Nasib berkata baik. Setelah mendapatkan unag untuk telepon kerabatnya, ia pun dijemput. Bukannya kapok, Taufik justru menganggap itulah sensasi bertualang.

Taufik termasuk salah satu tokoh sukses di Pekojan. Lelaki yang enak diajak ngobrol ini lahir di Semarang, 28 Agustus 1967, asli kelahiran Pekojan. Di rumah yang beralamat di kampung Pekojan Tengah no. 38, ia kini menikmati usaha bisnisnya bersama Dessy Zulinda, sang istri. Ilmu yang ia peroleh dari pendidikan Akademi Keuangan Akuntansi Semarang berhasil menyokong jiwa berbisnisnya. Lelaki yang menjabat sebagai ketua RT sejak tahun 2001 ini berharap bisnisnya bisa terus lancar. Satu hal yang melekat pada Taufik adalah kesediannya untuk berbagi resep binis dan kisah pengalamannya selama berpetualang demi melebarkan usaha dagangnya. (Widyanuari EP)

Facebooktwittergoogle_plus

Leave a reply