Berjuang Demi Status Tanah

Berjuang Demi Status Tanah

“Semoga kampung maju, terutama urusan sosialnya”

pekakota.or.id – Tak ada yang lebih membuat bangga dari seorang ketua RT selain kemajuan kampungnya. Kemajuan tentu tak sekadar pembangunan kampung. Tapi juga pembangunan masyarakat. Hal itu dipahami Sugeng Sutrisno setelah menjabat sebagai ketua RT selama hampir 4 tahun lamanya.

Sugeng sudah sejak lahir hidup dan tinggal di kampung Petemesan, sebuah gang buntu sekitar 100 meter. Terletak di area Pekojan, Purwodinatan. Sugeng lahir pada 24 april 1975. Ia warga asli Petemesan. Kini menempati sebuah bilik sederhana di RT 3 RW IV, di ujung persis gang. Dari penghasilannya menjadi satpam di Ruko THD Agus Salim, Sugeng bersama istri, Dina Hikmah Maylina, mendidik dan membesarkan tiga anaknya.

Sugeng sepenuhnya paham bagaimana kampungnya berkembang dari waktu ke waktu. Sejak masa kanak-kanak hingga kini menjadi ketua RT. Sugeng menamatkan masa pendidikannya di Universitas Semarang, dengan mengambil jurusan Manajemen, lulus tahun 1994. Meski kini bekerja tak sesuai dengan karir pendidikannya, Sugeng sama sekali tak menyesal. Justru ilmu yang diperolehnya dari kuliah membuatnya semakin mudah memahami permasalahan-permasalahan warga kampung.

Salah satu masalah yang sampai kini masih menjadi beban pikiran bagi Sugeng adalah status tanah di kampungnya. Sampai kini belum jelas kepemilikan tanah di kampungnya. Tak sedikit usaha yang telah ia tempuh, tetapi belum menuai hasil. Sugeng kini hanya memikirkan bagaimana memaksimalkan kepemimpinannya dalam melayani warganya.
Sebagai wilayah yang berada pada sebuah gang bentu, menurut Sugeng, rasa kekerabatan di kampungnya menjadi sangat erat. Tidak banyak orang asing yang keluar masuk gang ini. Fasilitas umum pun, yaitu MCK umum, yang terletak di halaman luas di muka gang, memantik rasa saling meiliki di antara warga kampung. Hampir semua warga di kampung tersebut memakai MCK ini. Barangkali karena lokasi kampung yang secara geografi ini hanya satu arah inilah, kampung Petemesan pernah mendapat juara II Lomba Pos Kamling pada tahun 2012 yang diselenggarakan oleh Polsek Semarang Tengah. “Semoga kampung maju, terutama urusan sosialnya”. Kedekatan antar warga saat ini, diharapkannya bisa semakin erat.

Namun, tentu saja tidak ada kampung yang tumbuh tanpa permasalahan, selain masalah tanah, di kampung ini banjir seperti sudah menjadi langganan. Hampir setiap musim hujan datang kampung ini pasti terendam, meski cuma sebatas matakaki. Semua ini bermula dari saluran air yang kian mampet. Sugeng tak mau menyalahkan pihak manapun. Baginya inilah konsekuensi dari kepadatan penduduk dan pembangunan di Semarang.

Beruntunglah, di kampungnya, Sugeng merasa warganya sangat terbuka setiap ada permasalahan yang melibatkan warga. Ketika datang banjir, warga kerap bergotong royong dalam membersihkan sisa banjir. Bahkan saat tidak hujan pun, di beberapa saluran ada yang sudah meluber dan menimbulkan bau yang tidak sedap.

Kini, di sela kesibukannya bekerja dan menginisiasi perkumpulan rutin warga di kampungnya, Sugeng masih tetap aktif menghadiri pertemuan di kelurahan. Sembari memelihara burung kesayangannya. Sugeng memang menggemari burung sejak muda. Di rumahnya kini, ada mengantung sekitar empat kandang burung, berisi burung kenari yang sangat ia gandrungi. Barangkali dengan mendengar kicauan burung inilah, ia bisa menikmati istirahat siang dengan tenang. Sebelum malam hari ia harus kembali berangkat kerja untuk jaga malam, seperti halnya malam-malam sebelumnya. (Widyanuri EP)

Facebooktwittergoogle_plus

Leave a reply