Awal Mula

Awal Mula

pekakota.or.id – Pada tanggal 25-26 Mei 2012 di Hotel Quest Semarang, Rujak Center For Urban Studies mengadakan lokakarya bertajuk Dinamika Pengetahuan Perkotaan (DPP). Lokakarya ini selain tentu saja bertujuan untuk memperkenalkan ide mengenai Dinamika Pengetahuan Perkotaan, juga bermaksud untuk memetakan kapasitas –kegiatan,program,unsur, dan organisasi, yang sudah ada di Semarang. Hal ini perlu dilakukan untuk melihat kemungkinan berlanjutnya program DPP di Semarang dan juga membuat rencana tindak lanjut.
Apakah DPP itu? Dinamika Pengetahuan Perkotaan sejatinya adalah sebuah gagasan bagaimana sebuah kota dapat memproduksi sebuah pengetahuan bersama. Produksi pengetahuan dilakukan oleh warga kota yang nantinya menjadi milik bersama dan dimanfaatkan sebaik-baiknya demi kelestarian kota. DPP menemukan urgensinya mengingat situasi mutakhir perkotaan yang semakin kompleks. Seperti diketahui, seringakali kebijakan tentang kota diterapkan dengan pengetahuan yang terbatas, namun harus memenuhi kepentingan banyak orang. Untuk mencegah dampak yang (lebih) buruk, kota harus dibangun dengan pepdekatan yang lebih lestari. Untuk mencapai hal itu warga kota harus turut terlibat dan dilibatkan. Salah satu prasyarat dari keterlibatan tersebut adalah rasa mengenali dan memiliki. Memiliki lingkungannya, kampungnya, kotanya.

IMG_0807

Forum yang diikuti oleh hampir 30 orang itu pada dasarnya mengakui pentingnya kesadaran warga kota akan pengetahuan-pengetahuan yang ada di dalam kotanya sendiri. Kemudian dibicarakan juga tentang mekanisme pengawalan kebijakan pemerintah agar kelak tercipta kondisi kota yang dinamis, nyaman, dan aman untuk ditinggali. Forum juga sepakat akan kebutuhan ruang bersama untuk berbagi pengetahuan perkotaan. Ruang dalam hal ini tidak dimaknai sebagai ruang secara fisik, melainkan juga forum berpikir bersama yang bisa melahirkan gagasan-gagasan tentang permasalahan kota dan solusi yang tentu saja akan diwujudkan dalam aksi nyata.

Beberapa hari setelah lokakarya selesai, peserta yang serius ingin melanjutkan gagasan ini rutin berkumpul. Akhirnya terbentuklah sebuah platform baru bernama Unidentified Group Discussion Semarang, yang disingkat menjadi UGD Semarang. UGD bukanlah sebuah komunitas maupun organisasi, melainkan sebuah forum bagi berbagai kalangan lintas disiplin maupun kelompok yang sepakat untuk melahirkan wacana, menjalankan aksi, dan menghasilkan pengetahuan demi Kota Semarang yang lebih ramah. Nama UGD muncul dari salah satu peserta lokakarya yaitu Adjie Noegraha yang memberi landasan bagus atas nama ini. Ia menulis :
“Salah satu indikasi kota yang sakit itu adalah ketidakmampuannya memberikan respons yang seksama terhadap kebutuhan warganya dan pendatang yang mengalir dari kota lain atau hinterland-nya (Satjipto Rahardjo, 1984). Meneruskan pernyataan tersebut (lebih jauh lagi) – kota yang sakit kronis – adalah kota yang telah lama sakit sehingga warganya tidak lagi mampu merasakan sakit. Kota kita sakit, karena (secara fisik) begitu banyak program penataan ruang yang berkesan sebagai sebuah perencanaan sporadis dan terputus. Masalah ‘klasik’ kota : rob, banjir, infrastuktur yang tidak terintegrasi, kualitas transportasi umum yang buruk, privatisasi dan dirampasnya ruang-ruang terbuka publick oleh berbagai pertarungan kepentingan, dan lainnya, sepertinya hanya menjadi busa-busa retorika yang hadir pada lembar-lembar rencana kota, tanpa implementasi yang jelas tolok ukur keberhasilannya.

Kota kita sakit, karena anak-anak kota kita sudah tidak lagi diasah untuk mengenali ‘baik dan buruk’, etika, tenggang rasa, lalu mereka tumbuh menjadi pemuda-pemudi yang kehilangan sensibilitas terhadap liyan, terjebak pada keriangan menikmati kabut-kabut eksistensi, menelanjangi diri dengan melahap trend,fashion, dan konsumsi. Sementara, generasi-generasi pendahulu yang datang dari masa lalu sudah terlalu korup, sibuk mencitrakan diri menjadi superhero, sekaligus gagap menghadapi ledakan kuasa media massa.

Kota ini sakit, karena nilai-nilai sudah menjadi product, kitch, parody, …menjadi komoditi. Nilai-nilai baru begitu saja lahir dengan sangat cepat, beruntun, setiap detik menuntut untuk di-update, di-like, di-share, di-subscribe, di-friend, ….di-remove!! Begitu berlanjut dan berputar-putar. Sementara kita, seluruh warga kota sudah tak lagi punya waktu untuk diam sejenak dan menyiapkan posisi tawar.

UGD,tidak berpretensi menjadi pemecah kebuntuan, atau godam yang menghancurkan kartel-kartel produksi, bukan juga oposisi subversi dari penentu kebijakan. UGD lebih dimaknai sebagai upaya warga kota untuk keluar dari zona-nyamannya, mengasah kepekaan untuk menyadari krisis yang terjadi, mengenali kotanya, menyusuri kembali jejak-jejak masa lalu kota, berbagi pengetahuan dengan tetangga-tetangga, lalu bijak menyikapi perubahan, dan melakukan sesuatu di lingkaran kapasitasnya.”

Kita semua tentu mengidamkan Kota Semarang yang lebih baik. Kebijakan yang dibuat oleh pemerintah kota sangat mempengaruhi pembangunan dan tentu saja warga kota. Kita semua harus percaya bahwa kebijakan akan pembangunan kota seharusnya dilandasi oleh pengetahuan yang dimiliki oleh warga, dan bukan hanya bertumpu pada pemilik modal dan birokrat. Selain itu banyak pula permasalahan kota seperti sanitasi, banjir, kemacetan, yang tentu saja linier dengan bagaimana kota ini direncanakan.

Kami yakin masyarakat itu bukanlah entitas yang bodoh. Mereka, bahkan dalam kasta paling rendah sekalipun adalah makhluk yang ‘cerdas’, kalau tidak tentu mereka sudah punah. Mereka bisa merespon perubahan dan menemukan solusi tentu karena memiliki pengetahuan, yang sadar atau tidak sadar berkembang dalam diri dan lingkungan mereka. Pengetahuan yang ada di masyarakat ini saling terkait dan membentuk sebuah mekanisme bertahan hidup dalam lingkungan mereka sendiri. Aspek yang membentuk pengetahuan ini juga beragam. Beberapa diantaranya adalah sejarah dan kearifan lokal yang ada di suatu tempat atau komunitas tentu. Seringkali hal-hal semacam ini tidak diketahui oleh para pembuat keputusan sehingga dianggap tidak penting, bahkan dianggap tidak ada. Sehingga kebijakan yang diambil akan suatu tempat/wilayah tidak sesuai dengan kebutuhan warga, dan lebih lagi, tidak sesuai dengan kelestarian kota.
Contoh paling sederhana adalah pembangunan Pasar Sampangan, Semarang yang menurut pengakuan beberapa pedagang tidak sesuai dengan keinginan mereka. Padahal apa yang menjadi mimpi para pedagang itu akan akan lebih baik jika juga menjadi dasar untuk mengambil kebijakan. Ini hanya salah satu contoh, masih banyak contoh lain menyangkut kebijakan yang tidak memperhatikan kebutuhan warganya. Seolah-olah apa yang diputuskan dari atas itu sudah bagus dan baik untuk rakyat.

Seperti yang ditekankan Marco Kusumawijaya, pendiri sekaligus direktur RCUS, inti dari Dinamika Pengetahuan Perkotaan adalah bagaimana caranya mengumpulkan informasi dari masyarakat, mendistribusikannya, dan memanfaatkannya. Ketiganya, mengumpulkan, mendistribusikan, dan memanfaatkannya menjadi segitiga yang terhubungkan satu sama lain. Dan begitulah seterusnya ketiga hal tersebut akan terus berhubungan. Nah apapun yang akan dilakukan oleh UGD Semarang haruslah meliputi ketiganya.

Sebenarnya, sudah banyak wacana mengenai problematika kota yang dikemukakan oleh berbagai komunitas, akademisi, maupun aktivis di Semarang. UGD Semarang dalam hal ini ingin mengumpulkan pengetahuan yang tersebar tersebut, sehingga bisa diolah bersama. Kami percaya sebuah gagasan kecil akan menjadi besar jika didukung oleh banyak orang. Untuk membuat mimpi-mimpi tentang kota itu menjadi kenyataan, kami bersepakat untuk memulainya dari hal yang lebih spesifik. Akhirnya kami memutuskan untuk mengangkat isu mengenai kampung sebagai pilot project. Tidak menutup kemungkinan bahwa kedepannya kami akan mengusung tema mengenai isu lain dan menulusuri kota Semarang dari berbagai sudutnya.

Untuk menyebarluaskan ide ini kepada komunitas dan masyarakat secara lebih luas, kami memutuskan untuk melibatkan anak muda terutama dari komunitas seni. Hal ini kami lakukan karena kami merasa anak muda kreatif di Kota Semarang harus mulai peduli pada kotanya. Mereka harus sebisa mungkin berkontribusi untuk melahirkan wacana dan mengelolanya dengan cerdas sehingga memiliki dampak yang lebih luas. Kami memilih seni karena kami percaya bahwa seni dengan berbagai macam bentuknya adalah media yang bisa merangkul banyak pihak.

Walaupun kami tidak menyebut diri sebagai sebuah organisasi, UGD Semarang tetap membutuhkan tim yang fungsinya mengelola kegiatan dan memastikan bahwa program dijalankan sesuai dengan jadwal. Beberapa orang yang menjadi tim pengurus ini adalah mereka yang hadir dalam workshop awal yang diadakan oleh Rujak Center for Urban Studies. Namun, selama kami berkegiatan, banyak pula rekan-rekan dari berbagai komunitas yang membantu dan bekerja bersama kami sesuai dengan bidang mereka masing-masing. Yang kami tekankan adalah bahwa gerakan menuju kota lestari ini adalah gerakan milik bersama.

Selamat bergabung.
Tim UGD.
(2013)

Facebooktwittergoogle_plus

Leave a reply