Augmented Reality for Vernacular Heritage

Augmented Reality for Vernacular Heritage

Augmented reality atau realitas tertambah merupakan suatu teknologi untuk membawa kenyataan baru pada realitas yang sudah ada menggunakan smartphone. Smartphone kini sangat lekat dalam kehidupan manusia layaknya bagian dari tubuhnya. Dengan adanya Teknologi Augmented Reality ini bisa menjadi indera penambah bagi manusia untuk meraba situs di sekitarnya. Augmented Reality Project: Purwodiatan bertujuan untuk mendekatkan kembali manusia kepada situs-situs di sekitarnya dengan lebih interaktif.

Liam Smyth seniman dari Inggris berkesempatan melakukan residensi di Semarang dengan difasilitasi  British Council dan Hysteria dalam rangkaian UK/ID Festival. Nantinya Liam akan mengembangkan potensi kreatif dan sejarah kampung-kampung di Purwodinatan melalui teknologi Augmented Reality. Proses Augmented Reality ini nantinya bisa diharapkan untuk mendorong produksi pengetahuan bagi warga itu sendiri dan warga juga sadar akan potensi yang mereka miliki.

Project ini berawal dari Kampung Malang, dengan mengambil beberapa situs di kampung. Diawali dengan situs mural yang ada di depan gang Kampung Malang. Mural Kampung Malang yang bertuliskan kampung Malang akan menampilkan data demografi kampung. Kampung Malang sendiri memiliki jumlah kepala keluarga (KK) sebanyak 180 kepala keluarga dan mempunyai jumlah penduduk keseluruhan sebanyak 720 jiwa. Rata-rata pekerjaan warganya ada buruh pabrik.

Selanjutnya ada mural Mbah Taman Winangun nantinya akan menampilkan slide show foto makam Mbah Taman yang ada di pekarangan rumah warga yang ada di pinggir jalan MT. Haryono. Mbah Taman Winangun adalah cikal bakal kelurahan Purwodinatan yang sebelumnya dalah kelurahan taman winangun yang diambil dari namanya, ada Mural 3D yang menampilkan tokoh warga Kampung Malang. Beliau adalah Pak Slamet Sumardi (62) dan beliau juga sebagai ketua RW. Dia berharap pemuda Kampung Malang terus berkegiatan dan aktif di Kampung mereka.

Selanjutnya ada Musholla Nur Huda, Musholla ini diperkirakan sudah berusia kurang lebih 150 tahun, yang mana merupakan peninggalan dari Tasripin. Bangunannya yang terbuat dari kayu jati dan berbentuk bangunan panggung ini masih asli bentuknya. Hanya saja bagaian bawah ditambahi dengan ruangan baru untuk MTQ dan penyimpanan barang warga. “Peralatan masjid juga masih asli, seperti kentongan dan mimbar dan mahkota atap masjid juga masih asli” Kata Sriyono Patrowiryono Putro (52) warga Kampung Malang.

Bergerak ke lebih dalam lagi menyusuri jalan kampung ada Rumah Kembar, Rumah ini kemungkinan berdiri sejak tahun 1907. Warga tidak mengetahui secara pasti sejarah dari rumah itu sendiri. Kalau melihat dari rumah-rumah peninggalan kolonial yang ada di sana ada tanda yang menunjukkan kalau rumah tersebut dibangun pada tahun tersebut. Namun sekarang rumah itu sudah tidak digunakan lagi. Digunakan warga unuk tempat tinggal burung merpati peliharaan warga. Liam disini mencoba merekonstruksi ulang rumah tersebut kembali ke masa jayanya dulu.

Di depan rumah kembar ada pengrajin sepatu Jordan Amor, Pemilik usaha ini bernama ibu Muammanah Mulyono (67). Memulai usaha sejak 1985 dan memiliki empat pegawai yang semuanya berasal dari Kampung Malang. “Dulu masih dititipkan di Pedagang kaki lima dan masih keliling sampai ambarawa buat pemasaran sepatunya” Ujar Muammanah pemilik usaha kerajinan sepatu Jordan Amor. Sekarang beliau hanya menerima pesanan sepatu saja, tidak perlu berjualan keliling lagi. Usaha kerajinan ini juga menerima pesanan sepau satuan.

Bergeser lagi ke sudut utara kampung ada sebuah situs yang bernama watu lumpang. Watu yang konon dulu bisa bergerak sendiri tanpa ada yang memindah. Watu lumpang ini batu yang ada sebuah cekungan di tengahnya. Warga meyakini bahwa watu lumpang ini memiliki kashiat penyembuhan jika meminum air yang ada di watu lumpang. “Dulu kata orang tua saya dulu, watu lumpang ini ada di jalan petolongan, terus bergeser ke kampung Petemesan, terus sekarang ke sini di Kampung Malang ini.” Ujar Slamet Sumardi (62) Warga Kampung Malang sekaligus RW.

 

 

Selanjutnya bergeser ke arah keluar menuju ke arah jalan Petolongan ada sbuah Industri pembuatan terpal milik pak Sireng (50) warga kampung malang. Beliau memulai usaha sejak tahun 2007, dan memiliki pegawai dua orang yang berasal dari kampung malang juga. “Untuk pemasaran terpal sudah sampai Kalimantan dan Papua”, terang pak sireng. Dalam Augmented Realitynya nanti akan ditampilkan cuplikan video wawancara dan proses singkat pembuatan terpal oleh pak sireng dan pegawainya.

Beralih ke Kampung Petemesan, dimana dulunya kampung itu adalah sentra industri pemotongan kaca.  Namun, kini sudah bisa dikatakan hilang akibat tumbuhnya industri pemotongan kaca yang lebih besar. Liam dan tim hysteria mencoba mengulik sisi lain dari kampung Petemesan. Petemesan memiliki mural dengan background peta kampung petemesan. Trigger image langsung di letakkan di peta tersebu

Situs pertama yang digarap oleh Liam adalah Gazebo yang ada di Kampung Petemesan. Gazebo yang dibangun secara kolektif oleh warga karena warga ingin memiliki sebuah tempat kumpul untuk kegiatan warga. Karena sebelumnya warga sering menggunakan jalan kampung untuk kegiatan warga yang dirasa mengganggu aktivitas warga.

Selanjutnya ada pintu air, Liam mencoba membuat animasi dari pintu air kampung Petemesan yang dibangun secara swadaya dengan backsound dari Pak Parto sebagai penanggung jawab pembangunan pompa air tersebut. Pompa air ini dibangun untuk mencegah masuknya air dari jalan bubakan yang membuat kampung petemesan banjir. Jalan bubakan yang ditinggikan 40 centimeter membuat kondisi kampung lebih rendah dari pada jalan bubakan itu sendiri. Air otomatis akan mengalir ke tempat yang lebih rendah yaitu kampung Petemesan. Pintu air ini tidak serta merta langsung menghilangkan banjir. Akan tetapi mempercepat hilangnya banjir di kampung. “Ketika hujan sudah selesai dalam satu jam, banjir di kampung langsung surut”.

Pintu air ini juga masih bermasalah dengan pompa yang kapasitasnya kurang besar dan pembetulan sekat di drainase kampung petemesan. Selanjutnya ada industri pengrajin stenlistil cetakan lilin-lilin besar. Industri ini menyuplai pembuat lilin besar di Semarang. Liam membuat video tentang proses pembuatan cetakan lilin tersebut. Selanjutnya ada mural 3D, yang mengambil model remaja kampung Petemesan bernama Nabila (16) yang berharap kampunya tambah maju lagi.

Yang terakhir ada data demografi Kampung Petemesan yang dibuat animasi oleh Liam Smyth, kampung petemesan  sendiri memiliki 56 kepala keluarga dan total penduduk sejumlah 200 orang dengan mayoritas pekerjaan swasta.Augmented Reality akan membawa data sejarah situs kampung dalam kehidupan nyata masyarakat, tidak hanya terekam lewat lisan. Agar tetap terjaga dalam ingatan dari setiap warga kota.

 

 

Facebooktwittergoogle_plus

Leave a reply