AIR ARTESIS DI KELURAHAN KARANGSARI

AIR ARTESIS DI KELURAHAN KARANGSARI

AIR ARTESIS DI KELURAHAN KARANGSARI

 

Carita lanjutan dari kisah ngangsu banyu……………………………………..

Pada awalnya, warga bersama-sama meminta ke Pemerintah Kota Semarang untuk mendapatkan sumur artesis, karena pada saat itu kondisi air dari PDAM sedang tidak stabil. “Pada saat itu ada ledeng naik, tapi tidak bisa diandalkan setiap saat airnya mengalir. Kadang-kadang setiap tiga hari hanya nyala sekali dan kadang seminggu hanya nyala sekali” Kata Mbah Setu salah satu tetua di kampung karangsari. Kekecewaan warga terhadap pelayanan air di PDAM pada saat itu, membuat warga berinisiatif untuk mengajukan bantuan sumur artesis untuk kampung karangsari. Mbah Setu dan warga mulai membuat surat dari warga yang disetujui oleh lurah dan camat kemudian mereka mengajukan permohonan bantuan sumur tersebut ke Pemerintah Kota Semarang. Awalnya pemerintah Kota Semarang belum memberikan persetujuan tentang bantuan sumur artesis karena air dari PDAM sudah masuk Kampung Karangsari. Namun, warga menjelaskan tentang air dari PDAM yang tidak berfungsi maksmial, dan pemerintah kota menyetujui untuk melakukan survey keadaan air PDAM dan menemukan fakta air dari PDAM tidak bisa mnegalir ke kampung Karangsari. Akhirnya Wali kota Semarang menyetujui pembuatan sumur tersebut.

Setengah bulan kemudian, pemeritah yang diwakili oleh empat orang pegawainya melakukan suvey awal ke kampung karangsari untuk mencari lokasi pembuatan sumur artesis yang memilki sumber terbesar. Akhrinya setelah beberapa bulan kemudian pemerintah membangun sumur arteseis tersebut di RT 04.

Setelah beberapa bulan kemudian, mbah Setu mendapat kabar baik dari kawannya yang memiliki kenalan baik di pemerintah pusat untuk pengajuan sumur artesis lagi karena di rasa satu sumber air artesis tersebut belum bisa memenuhi kebutuhan air warga setiap harinya. Warga kemudian mengajukan proposal juga ke pemerintah pusat untuk mendapat bantuan sumur artesis. Setelah tiga bulan pengajuan proposal, petugas dari Bandung melakukan survey lokasi. Dan akhirnya di putuskan pembuatan sumur artesis kedua di RT 07 yang merupakan daerah paling tinggi di Kampung Karangsari.

Pada awalanya sumur artesis tersebut dikelola oleh mbah setu beserta beberapa pengurus lainnya sekitar 12 orang. Namun seiring dengan bertambahnya jumlah konsumen dari sumur tirta agung tersebut, kepengurusan kemudian diserahkan oleh pengurus RW. Dengan jumlah konsumen lebih dari 500 lebih kepala keluarga yang tersebar bahkan di luar kampung karangsari, yaitu di RW 02, RW 03, RW 01, RW 04 dan RW 08.

Dengan adanya sumur artesis tersebut warga sangat di untungkan, karena harga air yang dikelola dari sumur tirto agung tersebut lebih murah diabndingkan dengan harga air dari PDAM. Untuk saat ini sendiri harga air dari tirto agung yaitu 3000 per kubiknya dengan jumlah tagihan per kepala keluarga sekitar 70.000 – 75.000 rupiah setiap bulannya.

Facebooktwittergoogle_plus

Leave a reply