Mbah Tanhuri, Sejumput Ingatan Masa Lalu

 

Merupakan salah satu sosok yang dituakan oleh warga Sendangguwo, khususnya di RT 01 RW 0 Mbah Tanhuri atau akrab disapa dengan Mbah Tan, termasuk pendatang asli Tegal yang telah lama mendiami RT 01, Kelurahan Sendangguwo. Beliau telah berusia 75 tahun. Mbah Tan kini berprofesi sebagai penjaga makam Nyai Rebon, sekaligus melaksanakan piket pada hari Kamis, Jumat, dan Sabtu secara bergilir. Sempat bergulat dengan kehidupan pasca-kolonialisme Belanda dan Jepang, Mbah Tan menuangkan kisah perjalanan hidupnya melalui kata-kata kepada anak-cucu Beliau. “wong saya masih kecil, tapi saya masih ingat… Waktu ada pesawat terbang tuh malem-malem, waktu itu saya ditarik-tarik dibawa perlindungan dibawah tanah. Tapi ya susahe jarang makan. Satu hari belum tentu makan. Ya… Makan seadanya. Sekarang yo nasi malah turah-turah… Hahahah” tutur Mbah Tan.

Bersama kedua orang tua, Beliau mengaku bahwa ia pernah menetap di Karang Anyar, Semarang (dekat SMA Loyola), namun rumah Beliau kerap dilempari batu oleh Belanda, untuk diusir secara paksa. Kemudian, Mbah Tan pindah dan menetap di daerah Tlogorejo sampai sekitar 10 tahun, dan kedua kalinya, Mbah Tan pun terpaksa pindah karena tanahnya dibeli oleh pihak Rumah Sakit Tlogorejo. Selanjutnya, keluarga Mbah Tan pindah ke daerah Gajahmada, dan terakhir kini menetap di Kelurahan Sendangguwo sejak 1978.

Awalnya, semenjak lulus dari Sekolah Rakyat, Mbah Tan sempat bekerja di pabrik batu baterai milik keturunan Tionghoa didekat Pelabuhan Tanjung Mas pada tahun 1961. Sekitar delapan tahun bekerja, Mbah Tan pun mengundurkan diri karena pimpinan pabrik berubah sehingga kesejahteraan karyawan tidak diperhatikan. Empat tahun berselang, mendiang istri Mbah Tan melahirkan anak pertamanya ditengah huru-hara peristiwa G30S/PKI. Berdasarkan penuturan Mbah Tan, “waktu itu Beliau saya lihat orang-orang dari Jakarta kan… Sekarang namanya Kopasus. Yang jaket merah itu tho, kan dateng di Jawa Tengah malah bikin rusuh… Pabrik-pabrik semua dibakari. Saya ngikut ok naik sepeda, dibelakange panser… Wis, keliling ikut itu… Sekolahan di Jalan Gajahmada itu dikasih bom, duorrr… Dibakar semua dibakar… Pandan Ampel pabrik susu dibakar, pabrik rokok Perahu Layar diobrak-abrik… Saya ikut terus ok. Nah di daerah Solo itu, satu desa itu dibunuh semua… Lha dulu kan Pak Harto… Poko’e orang-orang PKI dihabisi sampe ke akar-akarnya…”

Mbah Tan juga mengatakan, pernah terjadi banjir bandang di Kota Solo setelah peristiwa pembunuhan massal tersebut (yang menghabisi seluruh nyawa di suatu desa) dan mengakibatkan tubuh-tubuh jenazah bergelimpangan di jalan-jalan kota. “Orang-orang NU sama PKI diadu-domba, poko’e orang-orang semua diadu-domba. Seperti misale mbak mau bunuh itu, apa dibunuh, ya otomatis tho ya… Dipengaruhi gitu.” Adapun teman-teman Mbah Tan masa itu sedang mengenyam pendidikan STM dan banyak yang dituduh PKI sehingga mereka dikeluarkan dari STM. Tidak ada pengusutan secara tuntas ataupun identifikasi terlebih dahulu sebelum mengeluarkan siswa-siswa tersebut. Salah seorang teman Mbah Tan di Tegal turut bernasib na’as, dimana ia terpaksa merasakan “dinginnya” pengasingan selama kurang lebih 10 tahun di Pulau Buru, tanpa ada penyelidikan sebelumnya. Disatu sisi Mbah Tan mulai kehilangan orang-orang kepercayaannya. Rasa pahit, getir, bercampur ironi terhadap pemerintahan Orde Baru terbilang mapan dalam ingatan Mbah Tan; sampai sekarang. Disisi lain, Beliau juga merasa janggal karena hanya Mbah Tan yang tidak ditangkap ketika itu, namun seisi kampungnya ikut diciduk oleh otoritas setempat.

Sosok yang mengidolakan Soekarno ini, ternyata masih menyimpan ingatan akan periode “gelap-terang” masa silam. Masa dimana menghilangkan nyawa seseorang tidak lebih sulit ketimbang menyembelih hewan qurban. Sejumlah kegiatan gerilya, pemberontakan massa, politik adu-domba, ataupun pengalihan isu kian menjalar pada tiap golongan dan/atau penduduk di suatu daerah. Secara keseluruhan, dapat diamati bahwa untaian cerita diatas turut mengajarkan kita, betapa pentingnya menyalakan akal budi dan nurani, guna mewujudkan filsafah bangsa yang berbunyi Bhinneka Tunggal Ika; persatuan dalam keberagaman. Mbah Tan pun menutup wawancara dengan menyatakan bahwa kelak kita akan sadar; meskipun sering hanyut dalam fana waktu, dimana kita mampu mengukir narasi (sejarah) baru, melancarkan pemikiran dan/atau strategi pembangunan yang berasaskan dialektika; sebagaimana pencarian hakikat hidup yang senantiasa berkesinambungan.

Facebooktwittergoogle_plus

Leave a reply