Sang Inisiator dari Kemijen

Sang Inisiator dari Kemijen

Kemijen adalah sebuah kelurahan di Semarang Timur yang terdiri dari 11 RW dan 82 RT. Di tengah Kelurahan Kemijen membentang kali Banger. Kali yang menurut warga sekitar baunya tidak sedap (banger) sejak dari zaman mereka belum lahir. Kali Banger juga menjadi penyebab banjir di Kemijen dengan masuknya air laut ke kali Banger, selain itu permasalahan penurunan muka tanah juga menguras isi kantong warga Kemijen. Karena harus menaikkan bangunan rumah  tiap tahunnya.

Selain masalah fisik yang menyelimuti Kemijen, masalah sosial juga sangat memperihatinkan di daerah Kemijen dengan adanya banyak korban petrus pada masa 1980-an. Namun, sekarang kondisi Kemijen sudah tidak semengerikan masa orde baru.  Dengan wilayah sosial dan lingkungan yang begitu memperihatinkan ada sosok warga yang peduli dengan daerahnya. Katno begitu orang-orang di Kemijen memanggilnya. Seorang pelatih sepak bola untuk kampus UNIKA dan asisten pelatih Porprov kota Semarang ini sudah lama bergelut dengan permasalahan di Kemijen.

Sewaktu kecil Katno sering melihat ayahnya mengikuti organisasi di kampung, yang membuat dirinya ikut ke dalam organisasi di kampung seperti karangtaruna. Berawal dari Karang Taruna inilah embrio orang yang bernama lengkap Sukatno ini berkecimpung di dunia aktivis kampung sampai sekarang.”Dari keturunan bapak saya sudah ada minat di hal-hal seperti itu mas, mulai dari bapak, kakak, dan sekarang ke saya” ujar mas Katno.  Pergaulannya dengan NGO dan akademisi juga membuat mata beliau menjadi faham masalah apa yang ada di Kemijen.

Katno, insiator KOMJEN

Mengikuti Karang Taruna sejak tahun 1999, dan hanya beberapa tahun saja organisasi itu aktif dan akhirnya vakum. Akan tetapi anggotanya tidak lantas berpisah, melainkan tetap berkumpul dan masih membahas masalah linkungan tempat tinggalnya. Dengan vakumnya karangtaruna inilah menjadi awal munculnya Komunitas Masyarakat Kemijen (KOMJEN) Katno dan kawan-kawannya di Kemijen menginisiasi berbagai kegiatan dengan NGO dan Akademisi yang ada di Semarang.

KOMJEN sendiri merupakan organisasi swadaya masyarakat Kemijen yang diinisiasi oleh Katno dan rekan-rekan di karang taruna untuk memajukan kampungnya melalui monitoring pembangunan dan masalah sosial yang ada di Kemijen. Selain itu KOMJEN juga menjadi jembatan bagi NGO dan akademisi yang akan masuk ke Kemijen. Melalui jaringan masing-masing anggotanya inilah membuat ramai kegiatan dari berbagai NGO dan akademisi.”Dengan kedatangan teman-teman NGO dan akademisi ini yang sekaligus menjadi bahan pembelajaran bagi kami untuk lebih kritis terhadap pemerintah dan kampung” ungkap mas Katno.

Bergelut dengan masalah sosial dan pembangunan kampung, mulai dari mengawasi transparansi anggaran pembangunan, dan pendampingan warga baik permasalahan di kelurahan sampai pendampingan warga ke instansi kota.

Pria kelahiran 9 Desember 1971 ini mengaku ikhlas membantu warga tanpa ada embel-embel apapun. Saya ikhlas membantu warga. kalau bukan orang sini yang peduli siap lagi harusnya?”. Awal mula kegiatan Katno dan teman-teman di KOMJEN sendiri banyak yang memiliki prasangka buruk terhadap mereka. Dan sampai sekarang kegiatan tersebut masih terus dilakukan tanpa menghiraukan hal tersebut.

Katno sendiri di Kemijen sudah dianggap sebagai tokoh masyarakat. Ketika ada undangan rapat di kelurahan sering mendapat undangan sebagai tokoh masyarakat. Aku tidak pengen seperti itu, mas. “Aku disini mewakili KOMJEN dan supaya KOMJEN itu diakui juga di Kemijen. Meskipun undangannya hanya tertetera seperti itu”.Selain itu Katno juga menjadi anggota LPMK di kelurahan Kemijen, akan tetapi dengan adanya aturan di orgaisasi-organisasi Kemijen saat ini tidak boleh untuk rangkap jabatan akhirnya Katno melepas jabatan LPMK dan memilih KOMJEN. Alasannya supaya KOMJEN juga tetap eksis dan ada, karena ini rintisan da0pri warga-warga kemijen sendiri dan terus berlanjut. Karena sepak terjang dalam dunia advokasi kampungnya, Katno juga terpilih sebagai ketua Koalisi Masyarakat Peduli Anggaran Kota Semarang (KOMPAKS) dari tahun 2014-2015.

Ketika melakukan kegiatan dengan organisasi di kampung ini sering ada hambatan juga. Bagaimana memberi pengertian kepada keluarga khususnya istri dan kedua anaknya. Bagaimana membagi waktu terhadap keluarga dan kampung.”Alhamdulillah sekarang istri tiga anakku sudah mulai mengerti dengan yang sedang tak lakukan ini”.  

Facebooktwittergoogle_plus

Leave a reply